JAKARTA – Ruang rapat Komisi XII DPR RI mendadak tegang saat politisi senior PDI Perjuangan, Cornelis, hanya butuh waktu enam puluh detik untuk membongkar kerentanan infrastruktur energi di ibu kota. Di hadapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Cornelis melontarkan kritik pedas yang menyentil langsung performa PLN di bawah komando kementerian tersebut.
Kritik di Tengah Genangan
Saat Jakarta kembali lumpuh oleh banjir besar pada waktu lalu, masalah klasik pemadaman listrik massal kembali berulang. Namun bagi Cornelis, ini bukan sekadar urusan teknis kabel yang basah, melainkan kegagalan mitigasi bencana sektor energi.
“Jakarta banjir. Saya kena mati listrik, Pak. Tolong betul-betul diperhatikan PLN-nya,” ujar Cornelis dengan nada lugas. Sentilan ini terasa sangat tajam karena ditujukan langsung kepada Bahlil Lahadalia, menteri yang belakangan kerap bermanuver di isu-isu besar seperti investasi tambang dan hilirisasi, namun dianggap gagap dalam memastikan layanan dasar rakyat di depan mata.
Politik Energi: Antara Target Makro dan Realitas Mikro
Elaborasi Cornelis dalam waktu yang sangat sempit tersebut mencerminkan paradoks besar: Bagaimana mungkin pemerintah bicara tentang ambisi energi hijau dan ekspor listrik, sementara menjaga keandalan listrik di pusat pemerintahan saat hujan pun belum mampu?
“Persoalan listrik padam saat banjir bukan hanya soal pengamanan jaringan, tapi soal hak dasar atas rasa aman. Rakyat sudah terendam air, jangan ditambah gelap gulita,” tegas Cornelis. Ia menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seorang menteri diuji justru saat situasi darurat, bukan hanya di atas kertas laporan tahunan.
Sentilan untuk Bahlil: Urus Rakyat, Jangan Hanya Tambang
Angle ini menjadi menarik karena Cornelis secara implisit mengingatkan Bahlil bahwa ESDM bukan hanya tentang nikel, batu bara, atau urusan partai politik. Ada tanggung jawab besar pada ketersediaan layanan publik yang stabil. Pemadaman yang berdurasi lama di tengah banjir Jakarta adalah sinyal bahwa koordinasi antara PLN dan kementerian belum mencapai tahap mitigasi yang matang.
Kesimpulan Redaksi Bersuara 24 Jam
Pernyataan satu menit Cornelis adalah bentuk “parlemen jalanan” yang masuk ke ruang sidang. Ini adalah peringatan bagi pemerintah agar tidak abai pada layanan dasar. Ketika menteri lebih sibuk dengan proyek-proyek raksasa, hal-hal mendasar seperti lampu yang menyala saat banjir justru terlupakan.
bersuara24jam.com akan terus mengawal apakah sentilan ini hanya lewat sebagai angin lalu, atau akan ada perbaikan nyata pada SOP PLN dalam menghadapi cuaca ekstrem ke depan.


