Tekanan Pasar Global Hantam IHSG, Goldman Sachs Turunkan Rekomendasi Saham Indonesia

Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah seiring keputusan bank investasi global Goldman Sachs yang menurunkan rekomendasi pasar saham Indonesia.

Redaksi 24 Jam - Redaktur
2 Min Read
Kantor IDX di Jakarta, Indonesia Unsplash/Istimewa

JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah seiring keputusan bank investasi global Goldman Sachs yang menurunkan rekomendasi pasar saham Indonesia. Langkah tersebut memperburuk sentimen investor dan mendorong aksi jual berlanjut di Bursa Efek Indonesia.

Informasi tersebut dilansir dari detikFinance, pada Kamis, 29 Januari 2025, yang menyebutkan bahwa penurunan rekomendasi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap transparansi pasar serta potensi risiko struktural di pasar modal Indonesia.

Tekanan semakin kuat setelah MSCI melakukan peninjauan terhadap aspek free float dan tata kelola saham di Indonesia. Kondisi ini mendorong investor asing melakukan aksi jual secara agresif. Dilansir dari detikFinance, pada Kamis, 29 Januari 2025, nilai penjualan bersih investor asing tercatat mencapai sekitar Rp6,7 triliun dalam satu hari perdagangan.

“Kami menilai tekanan pasar masih akan berlanjut dan belum melihat momentum yang tepat untuk kembali masuk,” tulis Goldman Sachs dalam laporan risetnya, sebagaimana dilansir dari detikFinance, pada Kamis, 29 Januari 2025.

Goldman Sachs secara resmi menurunkan peringkat pasar saham Indonesia dari market weight menjadi underweight, seiring meningkatnya risiko arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Proyeksi arus keluar dana asing dari pasar saham RI diperkirakan dapat mencapai miliaran dolar AS. Pernyataan ini juga dilansir dari detikFinance, pada Kamis, 29 Januari 2025.

- Advertisement -

Selain itu, tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi oleh potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI. Jika perbaikan transparansi dan tata kelola tidak dilakukan hingga Mei 2026, Indonesia berisiko ditinjau ulang dari kategori emerging market menjadi frontier market. Fakta ini ditegaskan dalam laporan yang dilansir dari detikFinance, pada Kamis, 29 Januari 2025.

Kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi otoritas pasar modal dan pemangku kepentingan untuk segera melakukan pembenahan struktural guna menjaga kepercayaan investor serta stabilitas pasar keuangan nasional.

(RD/SL)*

Share This Article
Redaktur
Follow:
bersuara24jam.com merupakan media berita independen yang berkomitmen menyuarakan fakta, keadilan, dan kepentingan publik. Kami bekerja 24 jam untuk menghadirkan jurnalisme yang kritis, berpihak pada kebenaran, dan dekat dengan realitas warga.
Leave a Comment