JAKARTA – Grup Riset Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar diskusi strategis bersama Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ali Murtadho. Agenda tersebut fokus membedah masa depan pendidikan Islam di Indonesia sekaligus merancang kolaborasi riset lintas lembaga.di Gedung Tarbiyah, Komplek UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan. Pada Selasa, (2/6/2026)
Ketua Grup Riset PAI UIN Jakarta, Prof. Dr. Muhammad Zuhdi, menyambut baik kehadiran Prof. Ali Murtadho. Diskusi interaktif ini dihadiri oleh seluruh anggota grup riset PAI yang secara aktif mengelaborasi berbagai isu kontemporer dari sudut pandang akademis.
Dalam paparannya, Prof. Ali Murtadho menyampaikan sejumlah “kegelisahan akademik dan sosial” terkait pemikiran dan praktik pendidikan Islam di Indonesia yang dinilai masih jalan di tempat. Ia juga menyayangkan minimnya perhatian serius dari negara terhadap anggaran riset di bidang keagamaan.
“Sejauh mana dunia pendidikan kita mampu mencetak sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, dan inovatif agar Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) menuju visi Indonesia Emas?” kritik Prof. Ali.

Menurutnya, wacana pendidikan saat ini masih terlalu berpusat pada human capital standar, tanpa dibekali daya saing yang nyata di kancah global.
Merespons tantangan tersebut, Forum Grup Riset PAI berkomitmen untuk mendokumentasikan berbagai isu krusial seputar Pendidikan Agama Islam. Isu-isu tersebut nantinya akan disusun ke dalam sebuah peta jalan (roadmap) penelitian strategis guna meningkatkan kapasitas dan pengalaman riset para dosen.
Forum juga menyadari bahwa salah satu langkah konkret yang harus segera diambil adalah merancang desain kolaborasi riset. Langkah ini penting untuk memperluas jaringan penelitian sekaligus mengatasi kendala pendanaan yang selama ini kerap dikeluhkan oleh para akademisi.

Sebagai periset senior di BRIN, Prof. Ali Murtadho mengakui adanya keterbatasan lembaga dalam menjanjikan pembiayaan riset secara langsung. Kendati demikian, BRIN menyediakan program kemitraan yang kuat untuk memfasilitasi penelitian bersama (joint research) antara peneliti BRIN dan platform perguruan tinggi.
Diskusi ini pun ditutup dengan pembahasan rencana aksi nyata sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan BRIN. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan riset-riset berdampak tinggi demi kemajuan bangsa, khususnya di bidang pendidikan Islam.
(AMR/SL)*


