Laporan oleh: Ibu Ratna (Warga Kebon Pala, Jakarta Timur)
Setiap kali awan hitam menggantung di langit Jakarta, jantung kami di bantaran sungai ini mulai berdegup kencang. Bagi orang di gedung tinggi, hujan mungkin hanya berarti macet atau udara yang sejuk. Tapi bagi kami, hujan adalah alarm bahwa sebentar lagi kasur, pakaian, dan buku sekolah anak-anak kami akan basah kuyup oleh air cokelat yang berbau sampah.
Antara Menjaga Nyawa dan Harta
Banyak yang bilang, “Kenapa tidak pindah saja?” Pertanyaan itu menyakitkan. Jika kami punya uang, kami tidak akan memilih tinggal di tempat yang setiap tahun membuat kami harus mengungsi ke emperan toko atau masjid. Kami bertahan karena ini satu-satunya tempat kami bisa menyambung hidup sebagai buruh cuci dan pedagang kecil.
Saat banjir datang, kami hanya punya waktu hitungan menit untuk menyelamatkan yang penting. Seringkali, harta benda yang kami kumpulkan bertahun-tahun hancur begitu saja dalam semalam.
Layanan Pemerintah yang Lambat
Kami juga ingin bersuara soal bantuan. Seringkali bantuan datang setelah kami lapar selama 12 jam. Air bersih susah, listrik dipadamkan (seperti yang disentil Pak Cornelis di TV), dan anak-anak mulai terserang gatal-gatal. Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar nasi bungkus saat kami sudah kedinginan.
Suara Anda Adalah Kekuatan Ibu Ratna hanyalah satu dari ribuan warga yang suaranya sering tenggelam oleh berita politik besar. bersuara24jam.com hadir untuk memastikan cerita seperti ini tidak berhenti di status WhatsApp saja.
Punya laporan dari wilayah banjirmu? Jangan hanya diam. Ceritakan kondisimu, kirim foto atau videomu. Mari kita desak pemerintah untuk bekerja lebih nyata, bukan hanya saat kampanye saja.
Kirim Laporan Anda Ke:
- Email Redaksi: redaksi@bersuara24jam.com


