Eskalasi Konflik Timur Tengah: AS-Israel Gempur Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer di Negara Teluk

Ketegangan di Timur Tengah telah mencapai titik didih tertinggi. Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini memasuki fase eskalasi penuh yang berdampak masif terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global

Redaksi 24 Jam - Redaktur
3 Min Read
Secara geopolitik dan ekonomi, perang ini langsung mencekik rantai pasokan energi. Istimewa

JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah telah mencapai titik didih tertinggi. Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini memasuki fase eskalasi penuh yang berdampak masif terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global. Konflik ini memicu gelombang serangan balasan yang menghantam ratusan target strategis militer, menelan banyak korban jiwa, dan memicu krisis energi dunia.

Operasi militer gabungan AS dan Israel (yang disebut AS sebagai Operation Epic Fury) dimulai pada akhir Februari 2026 dengan menargetkan pusat komando, fasilitas rudal balistik, dan pangkalan angkatan laut Iran. Militer AS (CENTCOM) melaporkan telah menghantam lebih dari 1.250 target strategis di berbagai wilayah Iran hanya dalam kurun waktu 48 jam.

Puncak eskalasi dari serangan ini adalah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah tokoh penting lainnya di Teheran. Kematian Khamenei ini secara langsung memicu deklarasi perang dan serangan balasan skala besar dari pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi mereka, Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone secara bertubi-tubi ke berbagai aset militer AS dan Israel di kawasan tersebut.

- Advertisement -

Iran menggempur sedikitnya 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk markas Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal ke arah kapal induk USS Abraham Lincoln serta menyerang kapal perusak AS di Samudra Hindia. Gelombang rudal Iran juga dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas penting di wilayah Israel.

Pentagon sejauh ini secara resmi mengonfirmasi kematian 6 tentara AS dan mempublikasikan identitas mereka. Namun, pihak IRGC Iran mengklaim bahwa serangan balasan mereka telah menewaskan dan melukai hingga 650 tentara Amerika, sebuah klaim yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Serangan AS dan Israel ke daratan Iran telah menelan ratusan korban jiwa, baik dari pihak militer maupun sipil, serta menghancurkan fasilitas publik seperti rumah sakit dan sekolah.Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer ini berpotensi memakan waktu lebih lama dari proyeksi awal yang berkisar antara 4 hingga 6 pekan.

Trump juga menegaskan bahwa sudah “terlambat” bagi Iran jika ingin menempuh jalur negosiasi karena AS menargetkan kelumpuhan total pada sistem pertahanan negara tersebut.

Secara geopolitik dan ekonomi, perang ini langsung mencekik rantai pasokan energi. Jenderal militer Iran telah secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui oleh sekitar 20% total perdagangan minyak dunia. Kebijakan ini mengancam kapal-kapal komersial dan memicu lonjakan harga minyak global secara drastis, serta mengguncang pasar ekonomi internasional.

- Advertisement -

(RD/RM)*

Share This Article
Redaktur
Follow:
bersuara24jam.com merupakan media berita independen yang berkomitmen menyuarakan fakta, keadilan, dan kepentingan publik. Kami bekerja 24 jam untuk menghadirkan jurnalisme yang kritis, berpihak pada kebenaran, dan dekat dengan realitas warga.
Leave a Comment