MANILA, FILIPINA – Bupati Landak, Kalimantan Barat, dr. Karolin Margret Natasa, M.H., kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Inovasi pengelolaan energi terbarukan berbasis masyarakat melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Tenguwe, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, berhasil meraih penghargaan kategori National Strategic Excellence dalam ajang ASEAN Energy Awards 2026 di Manila, Filipina, Rabu (7/10/2026).
Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Gala Dinner and Awarding Ceremony ASEAN Energy Awards 2026 yang berlangsung di Philippine International Convention Center (PICC), bersamaan dengan penyelenggaraan Pertemuan Menteri-Menteri Energi ASEAN ke-44 (AMEM-44) dan ASEAN Energy Business Forum ke-26.
Keberhasilan ini menjadi pengakuan di tingkat Asia Tenggara terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Landak dalam mendorong pemerataan akses energi bersih melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai pengelola utama sumber daya energi di wilayahnya.
PLTMH Tenguwe merupakan pembangkit listrik berbasis tenaga air yang memanfaatkan aliran Sungai Pade. Pembangkit tersebut sebelumnya dibangun pada 2015 dengan kapasitas 50 kilowatt (kW), namun mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang pada 2019.
Menghadapi kondisi tersebut, Karolin mendorong pembangunan kembali fasilitas pembangkit melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Pada periode 2024–2025, pembangunan PLTMH berkapasitas 200 kW di kawasan Air Terjun Stiin atau Sungai Pade terus dikawal guna memenuhi kebutuhan listrik masyarakat pedalaman.
Di tengah keterbatasan kewenangan pemerintah kabupaten dalam urusan energi, Karolin menilai bahwa pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat tidak boleh terhambat oleh persoalan administratif dan pembagian kewenangan pemerintahan.
“Kami tidak boleh membiarkan masyarakat pedalaman terus dalam kegelapan,” tegas Karolin.
Hal yang membedakan PLTMH Tenguwe dari proyek elektrifikasi pada umumnya adalah penerapan tata kelola berbasis komunitas atau community-based governance. Melalui BUMDes Maju Bersama, masyarakat diberikan peran langsung dalam pengoperasian, pemeliharaan, hingga pengawasan keberlanjutan pembangkit.
Masyarakat turut bertanggung jawab menjaga turbin, membersihkan sedimentasi, merawat jaringan distribusi, serta melestarikan kawasan hutan dan daerah aliran Sungai Pade sebagai sumber utama energi listrik.
Dengan kapasitas 200 kW, PLTMH Tenguwe kini mampu menyediakan layanan listrik selama 24 jam bagi 617 sambungan rumah yang tersebar di sembilan dusun.
Selain meningkatkan akses kelistrikan, keberadaan pembangkit tersebut memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Pemanfaatan energi air diperkirakan mampu mengurangi konsumsi solar hingga 68.036 liter per tahun dan menekan emisi gas rumah kaca sekitar 183,7 ton CO₂e setiap tahunnya.
Dari sisi ekonomi, biaya energi masyarakat yang sebelumnya mencapai sekitar 80.000 dolar AS per tahun melalui penggunaan generator diesel kini turun menjadi sekitar 31.000 dolar AS. Artinya, masyarakat memperoleh penghematan sekitar 49.000 dolar AS atau setara Rp750 juta hingga Rp800 juta per tahun.
Penghematan tersebut memberikan ruang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif masyarakat, termasuk penggilingan padi, usaha kerajinan, penggunaan fasilitas pendingin, serta peningkatan aktivitas pendidikan dan pelayanan dasar di pedesaan.
Karolin menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mempertahankan keberlanjutan fasilitas yang telah dibangun.
“Listrik bukan lagi sekadar penerang di malam hari, melainkan penggerak kesejahteraan,” ujar Karolin.
Menariknya, inovasi pengelolaan PLTMH Tenguwe juga menjadi bagian dari kajian akademik doktoral Karolin di Sekolah Pascasarjana Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia bersama Prof. Garuda Wiko.
Kajian tersebut menempatkan pengembangan energi bersih berbasis masyarakat sebagai pendekatan untuk memperkuat ketahanan komunitas (community resilience), sekaligus menunjukkan keterkaitan antara kemandirian energi, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian lingkungan.
Penghargaan ASEAN Energy Awards 2026 menjadi momentum penting bagi Kabupaten Landak untuk memperkenalkan model pembangunan energi yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan listrik, tetapi juga mengedepankan kemandirian masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Keberhasilan PLTMH Tenguwe sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi yang lahir dari wilayah pedalaman Kalimantan Barat mampu memberikan kontribusi nyata terhadap agenda transisi energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.


