Sungai Kakap, Kubu Raya – H. Widodo bersama Komando Distrik Militer (Kodim) 1207/Pontianak dan Lions Club menanam mangrove di kawasan Pelangi Kapuas Park, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, pada Sabtu (12/9/2026).
Di tepian sungai itu, bibit-bibit mangrove ditanam selain untuk menghijaukan kawasan, juga, menjadikan akar mangrove kelak sebagai benteng alami yang membantu menahan abrasi, menjaga kestabilan tanah, sekaligus menyediakan ruang hidup bagi berbagai biota perairan.
Bagi Widodo, kerja menjaga lingkungan justru dimulai setelah bibit masuk ke tanah. Penanaman, menurut dia, harus diikuti dengan perawatan agar kegiatan penghijauan tidak berhenti sebagai seremoni.
“Yang penting bukan hanya berapa banyak yang kita tanam hari ini, tetapi bagaimana memastikan tanaman ini hidup, tumbuh, dan memberi manfaat dalam jangka panjang,” kata Widodo.
Ia menilai kawasan Sungai Kakap memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai dan wilayah pesisir. Karena itu, menjaga vegetasi di tepian air juga berarti menjaga ruang hidup masyarakat di sekitarnya.
Mangrove memiliki fungsi ekologis berlapis. Selain membantu mengurangi abrasi, vegetasi ini menjadi habitat dan tempat berkembang biak biota perairan, sekaligus mampu menyimpan karbon pada batang, akar, dan terutama tanah di bawahnya. Manfaat tersebut membuat rehabilitasi mangrove menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketahanan ekosistem pesisir.
Bertahun-tahun Widodo mengingatkan, penghijauan tak cukup dihitung dari jumlah bibit yang ditanam. Ukurannya harus bergeser pada berapa banyak pohon yang bertahan dan seberapa jauh kawasan yang dipulihkan benar-benar memberi manfaat.
“Lingkungan tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja. Kolaborasi seperti ini harus terus diperluas, antara masyarakat, TNI, organisasi sosial, pemerintah, dan berbagai unsur lainnya,” ujarnya.
Keterlibatan Kodim 1207/Pontianak dan Lions Club dalam penanaman tersebut, menurut Widodo, memperlihatkan bahwa agenda lingkungan bisa menjadi ruang kerja bersama lintas institusi.
Pelangi Kapuas Park pun diharapkan tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi berkembang sebagai kawasan edukasi lingkungan sekaligus pengingat bahwa masa depan sungai bergantung pada cara masyarakat memperlakukannya hari ini.
“Menanam satu pohon mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika dilakukan bersama dan dirawat dengan konsisten, dampaknya bisa jauh lebih besar bagi generasi berikutnya,” kata Widodo.


