Widodo dan Jalan Panjang Merawat Lingkungan di Hilir Sungai Kapuas

Widodo menamai kawasan yang dirawatnya itu Pelangi Kapuas Park. Tempat tersebut tidak ia bayangkan hanya sebagai kawasan hijau. Sejak awal, ia ingin konservasi berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat. Lingkungan dipulihkan, sementara warga sekitar tetap memperoleh manfaat ekonomi.

Redaksi 24 Jam - Redaktur
8 Min Read
Widodo bersama Mahasiswa dan Komunitas Orang Muda melakukan kegiatan menanam bersama di Pelangi Kapuas Park, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan BaratIstimewa

“Bagi saya, menjaga lingkungan ini adalah tanggung jawab moral,” kata Widodo ketika ditemui, Minggu, 23 Agustus 2026.

Ucapan itu seperti merangkum perjalanan panjang Widodo bersama kawasan hilir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Selama puluhan tahun, ia menanam dan merawat vegetasi pesisir di kawasan tersebut. Mangrove dan pohon api-api tumbuh sedikit demi sedikit, membentuk bentang hijau di tepian sungai yang menjadi pertemuan antara kehidupan masyarakat, ekosistem perairan, dan kawasan pesisir.

Widodo menamai kawasan yang dirawatnya itu Pelangi Kapuas Park. Tempat tersebut tidak ia bayangkan hanya sebagai kawasan hijau. Sejak awal, ia ingin konservasi berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat. Lingkungan dipulihkan, sementara warga sekitar tetap memperoleh manfaat ekonomi.

“Kalau lingkungan kita jaga, masyarakat juga harus merasakan manfaatnya. Orang bisa datang ke sini, melihat alam, belajar tentang lingkungan, dan masyarakat juga bisa mendapatkan kegiatan ekonomi,” ujarnya.

Dari gagasan itu, Pelangi Kapuas Park berkembang dengan pendekatan ekowisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan tepian Kapuas, tetapi juga dapat mengenal fungsi vegetasi pesisir dan pentingnya menjaga ekosistem sungai. Pada saat yang sama, kunjungan masyarakat membuka peluang usaha bagi warga sekitar.

Pemikiran tersebut sejalan dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan yang menempatkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sebagai dua hal yang tidak semestinya dipertentangkan. Bagi Widodo, alam justru memiliki nilai ekonomi lebih panjang ketika ia tetap hidup dan terjaga.

- Advertisement -

Kerja yang dijalankan Widodo kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah dan sejumlah instansi ikut memberikan perhatian terhadap kegiatan konservasi tersebut. Dukungan juga datang dari organisasi nonpemerintah dan sektor swasta yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah mendukung, NGO juga ikut, pihak swasta juga membantu. Menjaga lingkungan memang harus bersama sama karena manfaatnya juga dirasakan bersama,” kata Widodo.

Keterlibatan banyak pihak menjadi penting karena pemulihan ekosistem tidak berhenti pada penanaman. Tanaman yang sudah masuk ke tanah harus dipelihara. Kawasan harus dijaga. Masyarakat juga perlu dilibatkan agar memiliki rasa kepemilikan terhadap lingkungan di sekitarnya.

Bagi Widodo, keberhasilan konservasi justru ditentukan setelah kegiatan penanaman selesai.

“Menanam mungkin bisa selesai dalam satu hari. Yang penting itu setelahnya. Siapa yang merawat dan memastikan tanaman itu tetap hidup,” tuturnya.

Mangrove dan Karbon

Pilihan Widodo menanam mangrove bukan tanpa alasan. Di kawasan pesisir dan muara sungai, mangrove memainkan sejumlah fungsi sekaligus. Sistem perakarannya mampu memperlambat arus air, menangkap sedimen, membantu mengurangi abrasi, dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, moluska, burung, serta organisme lainnya.

- Advertisement -

Di tengah persoalan perubahan iklim, fungsi mangrove menjadi semakin penting karena kemampuannya menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis dan menyimpan karbon tersebut dalam batang, cabang, daun, akar, serta tanah di bawahnya.

Sebagian besar cadangan karbon ekosistem mangrove justru dapat tersimpan di dalam tanah dan sedimen selama waktu yang panjang. Kemampuan itu membuat mangrove menjadi bagian penting dari apa yang dikenal sebagai ekosistem karbon biru, yaitu ekosistem pesisir yang berperan menyerap dan menyimpan karbon.

Dengan fungsi tersebut, kawasan mangrove yang dipertahankan bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ia juga berkontribusi dalam upaya yang lebih luas untuk mengurangi konsentrasi karbon di atmosfer.

- Advertisement -

“Mangrove ini manfaatnya besar. Selain menjaga tepian dan menjadi tempat hidup berbagai jenis biota, dia juga menyerap karbon. Jadi yang kita jaga di sini manfaatnya sebenarnya jauh lebih luas,” kata Widodo.

Selain mangrove, ia menanam pohon api api. Tanaman dari kelompok Avicennia itu merupakan salah satu vegetasi yang lazim tumbuh dalam ekosistem mangrove. Ia mampu hidup pada kawasan berlumpur dan dipengaruhi pasang surut air.

Pohon api api memiliki akar napas yang muncul dari permukaan tanah. Struktur tersebut membantu tanaman memperoleh oksigen di lingkungan berlumpur yang miskin udara. Jaringan akarnya juga membantu menangkap sedimen dan memperkuat struktur tanah di kawasan pesisir.

Seperti tumbuhan mangrove lainnya, api api juga menyerap karbon dioksida dari atmosfer selama proses pertumbuhan. Karbon kemudian disimpan dalam biomassa tanaman dan tanah di sekitarnya. Semakin sehat ekosistem mangrove, semakin besar pula kemampuannya mempertahankan cadangan karbon sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan.

Karena itu, keberadaan mangrove dan api api tidak dapat dilihat hanya sebagai kumpulan pohon di tepian sungai. Keduanya menjadi bagian dari sistem alam yang bekerja menjaga daratan, perairan, keanekaragaman hayati, sekaligus iklim.

Dari Konservasi ke Kehidupan Warga

Widodo memahami bahwa konservasi akan sulit bertahan apabila masyarakat di sekitar kawasan tidak ikut memperoleh manfaat. Itulah sebabnya pengembangan Pelangi Kapuas Park tidak berhenti pada penanaman. Ia ingin masyarakat menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Aktivitas wisata dapat membuka peluang usaha makanan dan minuman, jasa, kegiatan edukasi lingkungan, serta bentuk ekonomi lokal lainnya. Dengan cara itu, masyarakat memiliki kepentingan yang sama untuk mempertahankan kawasan tetap hijau.

Pendekatan seperti itu menjadi penting di banyak kawasan pesisir. Tekanan pembangunan, perubahan penggunaan lahan, pencemaran, dan kebutuhan ekonomi sering kali membuat lingkungan berada dalam posisi yang rentan. Konservasi yang mengabaikan kebutuhan masyarakat dapat kehilangan dukungan, sementara kegiatan ekonomi yang mengabaikan lingkungan dapat menghabiskan sumber kehidupan itu sendiri.

Bagi Widodo, pelestarian lingkungan bukan berarti alam harus dijauhkan sepenuhnya dari aktivitas manusia. Yang perlu dibangun adalah cara hidup yang membuat manusia tetap memperoleh manfaat tanpa menghancurkan kemampuan alam untuk memulihkan dirinya. Kerja itu membutuhkan waktu panjang.

Mangrove yang ditanam hari ini mungkin baru menunjukkan fungsi ekologis yang jauh lebih besar beberapa tahun kemudian. Sedimen terkumpul perlahan. Biota datang kembali. Akar menguat. Kanopi berkembang. Proses semacam itulah yang telah disaksikan Widodo selama puluhan tahun.

Di tengah semakin kuatnya pembicaraan mengenai perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon, apa yang dilakukan Widodo menunjukkan bahwa persoalan global tersebut memiliki bentuk yang sangat lokal. Ia dapat dimulai dari orang yang menanam pohon di tepian sungai dan bersedia kembali untuk merawatnya.

Pelangi Kapuas Park tentu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan Kalimantan Barat. Namun kawasan itu memperlihatkan bagaimana kerja konservasi dapat tumbuh ketika ada ketekunan, keterlibatan masyarakat, serta dukungan pemerintah, organisasi nonpemerintah, dan dunia usaha.

Di hilir Sungai Kapuas, mangrove dan pohon api-api yang tumbuh menjadi bagian dari jejak kerja tersebut. Pohon pohon itu menahan sedimen, menyediakan ruang hidup bagi biota, menyerap karbon, dan menjaga tepian sungai. Widodo masih merawatnya.

Baginya, pekerjaan menjaga lingkungan memang tidak selesai ketika sebuah pohon berhasil ditanam. Pekerjaan itu baru selesai ketika generasi berikutnya masih dapat menikmati sungai, pepohonan, dan kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

*Liputan Khusus Tim Redaksi untuk Program Penjaga Lingkungan 2026

Share This Article
Redaktur
Follow:
bersuara24jam.com merupakan media berita independen yang berkomitmen menyuarakan fakta, keadilan, dan kepentingan publik. Kami bekerja 24 jam untuk menghadirkan jurnalisme yang kritis, berpihak pada kebenaran, dan dekat dengan realitas warga.
Leave a Comment