Jakarta – Tim Riset Kolaborasi menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Critical Thinking dalam Tradisi Studi Islam dan Dampaknya terhadap Pola Pikir Keagamaan Generasi Z di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Indonesia” di Smart Class Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kementerian Agama RI, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Romlah Widayati, M.Ag., Wakil Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, serta Prof. Dr. Sururin, M.Ag., Dr. Abdul Mukti, M.A., dan Dra. Zikri Neni Iska, M.Psi., yang merupakan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. FGD juga diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IIQ Jakarta, Universitas Cendekia Abditama, STAI Sadra, dan IAI Al-Khairiyah Cilegon.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Romlah Widayati, M.Ag. menegaskan bahwa Maqāṣid al-Syarī’ah merupakan kunci dalam membangun critical thinking dalam tradisi keilmuan Islam. Menurutnya, berpikir kritis tidak hanya menguji suatu persoalan secara rasional, tetapi juga memahami tujuan utama syariat untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan keseimbangan dalam kehidupan

Maqāṣid al-Syarī’ah adalah kunci dalam penalaran Islam. Dengan memahami tujuan-tujuan syariat, seseorang akan mampu berpikir lebih kritis, bijaksana, dan kontekstual dalam menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat,” ujar Romlah.
Sementara itu, Prof. Dr. Sururin, M.Ag. menekankan bahwa critical thinking perlu dibangun melalui tradisi akademik yang sehat, yakni dengan membiasakan mahasiswa berdialog, berdiskusi, dan menghargai keberagaman pandangan. Menurutnya, tradisi intelektual Islam sejak awal telah berkembang melalui proses argumentasi ilmiah yang terbuka, sehingga mahasiswa perlu didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis tanpa kehilangan etika dan nilai-nilai keislaman.
Critical thinking bukan berarti mempertentangkan agama dengan akal, melainkan mengoptimalkan keduanya dalam memahami realitas. Tradisi keilmuan Islam mengajarkan pentingnya mengkaji, berdialog, dan menguji berbagai pandangan secara ilmiah agar lahir pemahaman yang lebih utuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Sururin.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Abdul Mukti, M.A. menyampaikan bahwa critical thinking merupakan salah satu kompetensi yang sangat bernilai di era modern. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi Generasi Z untuk menyikapi derasnya arus informasi sekaligus menjawab berbagai tantangan sosial, keagamaan, dan kebangsaan secara objektif.
Critical thinking adalah salah satu kemampuan yang sangat mewah pada masa sekarang. Kemampuan ini diperlukan agar kita mampu memahami persoalan secara utuh, memilah informasi dengan baik, dan menghadirkan solusi yang tepat terhadap berbagai tantangan dewasa ini,” kata Abdul Mukti.

Melalui FGD ini, Tim Riset Kolaborasi berharap lahir berbagai gagasan akademik yang dapat memperkuat tradisi berpikir kritis di lingkungan PTKI sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi muda yang moderat, adaptif, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.
(SL/RD)*


